Bijaklah memilih jalan hidup – kisah seorang pria dan jalannya.

Posted by Unknown 0 komentar

Kau harus mendayung perahumu sendiri, begitulah kiranya sebuah peribahasa yang menjadi patokan dalam jalan hidupku. Hari itu, selagi membaca forum internet yang setiap hari ku kunjungi, aku melihat sebuah artikel yang dikirim oleh salah seorang anggota. Judulnya? Bersediakah kau menikahimu? Wah pertanyaan yang menarik bukan? Aku terkikik melihat kata-kata di layar laptop-ku. Judul itu memang cukup menggelitik sampai-sampai aku langsung menegakan badan dan jujur saja, aku penasaran ingin tahu bagaimana tanggapan orang-orang.

Beberapa menit setelah membaca artikel itu aku masih disana, duduk bersandar di kursiku, termenung. Artikel itu mengajakku memikirkan semua tingkah laku dan kebiasaanku sendiri lalu mengajukan pertanyaan penting ini kepada diriku sendiri.
Jika aku berkenalan dengan seorang (yaitu diriku sendiri) yang memiliki karakteristik, tingkah laku, dan sikap seperti ini, bersediakah aku menikahinya?

Aku diharapkan bercermin pada tingkah laku atau karakterku sekarang ini, dan itulah kuncinya, bukan tingkah laku atau karakter yang ingin kumiliki di masa depan. Periode evaluasinya adalah sekarang, yang sedang berlangsung, kini, dan saat ini.

Aku mulai berfikir. Metode ini bagus sekali. Hmm,, Bersediakah aku menikah denganku? Yang mengejutkan aku sadar bahwa pikiran jujurku menjawab , “mungkin” dan bukan, “sudah pasti” atau tidak. Karena itu lalu aku bertanya pada diriku sendiri hal-hal apa yang semestinya kulakukan untuk membantuku mengubah jawaban dari mungkin menjadi ya yang mantap, dan, begitulan aku mulai menyusun satu daftar lagi.

Metode ini begitu ampuhnya hingga aku memutuskan untuk menggunakan alur pertanyaan yang sama untuk menanyakan kepada diriku sendiri hal-hal lain juga, seperti : bersediakah aku berteman dengan aku? Bersediakah ak mempercayaiku? Maukah aku mencintaiku? Maukah aku menjadi atasanku? Bersediakah aku menjadi muridku? Atau bahkan, bersediakah aku mempunyai putra sepertiku?
Oke aku tahu tiga yang terkahir itu kedengarannya sedikit aneh, tapi kurasa kalian tahu maksudku bukan? Supaya mudah dimengerti, kalian bisa menyusun berbagai pertanyaan tadi dalam format lain : bersediakah aku menerimaku sebagai teman? Maukah aku mempercayai orang sepertiku? Maukah aku mencintai orang yang berkarakter sama persis seperti aku? Inginkah aku bekerja sama dengan orang sepertiku? Dan seterusnya.

Aku geli melihat jawaban-jawaban yang kuberikan untuk setiap pertanyaanku itu. Hasilnya menegaskan bahwa aku ini hanyalah manusia biasa yang banyak kekurangan dan sudah pasti perubahan perilaku akan mendatangkan manfaat bagiku. Tentu saja aku tersenyum sewaktu menatap daftar yang gamblang mengenai diriku sendiri ini, dan aku sadar arttikel itu sebenarnya tentang perubahan. Memperbaiki diri, berusaha , Transformasi.

Artikel itu menyajikan cara yang sangat bagus untuk menilai sendiri karakter dan perilaku sehari-hari kita saat ini. Tidak ada pertanyaan pilihan ganda dan mencocokan yang memberi tahukan siapa kita. Hanya satu pertanaan dan kita harus memikirkan sendiri jawabannya. Allah, sang Khalik sudah mengajari kita pentingnya bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita sendiri,
Bagi siapa diantara kamu yang hendak mendahului. Atau tinggal dibelakang saja. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya.
(Al-Muddatsir 74:37-38)

Kita semua diminta oleh Allah untuk menjelaskan tindakan kita masing-masing dan yang terpenting adalah bahwa kita harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakan itu. Bertanggung jawab . dua kata yang membuatku tidak bisa tidur.
Mari kita ingat hadis ini :
Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa rasulullah berkata : Masing-masing dari kamu adalah pelindung dan bertanggung jawab atas tanggungannya. Pemimpin yang berkuasa atas rakyatnya adalah pelindung dan bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah pelindung rumah dan anak-anak suaminya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang pelayan adalah pelindung harta benda tuannya dan bertanggung jawab atas barang-barang itu, maka kalian semua adalah pelindung dang bertanggung jawab atas tanggungan kalian.
Al-Bukhari dan Muslim


Aku ingin berbagi dengan kalian sebuah buku “mikro” yang pernah kubaca , sebuah cerita super pendek yang memuat lima adegan dengan analogi yang pantas disebarkan.

Adegan 1 :
Aku menyusuri jalan, dan ada lubang yang dalam di trotoar. Aku terpelosok. Lama sekali aku baru bisa keluar. Kejadian itu bukan salahku.
Adegan 2 :
Aku menyusuri jalan yang sama. Aku terpelosok lagi ke dalam lubang yang sama. Aku tetap perlu waktu lama untuk keluar. Itu salahku.

Adegan 3 :
Aku menyusuri jalan yang sama. Aku terperosok lagi ke dalam lubang. Rupanya sudah jadi kebiasaan. Itu sudah jelas salahku. Aku cepat-cepat keluar dari lubang.

Adegan 4 :
Aku menyusuri jalan yang sama dan melihat lubang yang dalam di trotoar. Aku berjalan mengitari lubang.

Adegan 5 :
Aku mengambil jalan yang lain.

Bagus bukan? Akhirnya sang narator menyusuri jalan lain. Cerita ini ditulis dengan sangat indah karena sangat sederhana dan tidak berbelit-belit. Dan aku suka sekali kesederhanaan itu. Meski demikian, cerita ini mengandung tuntunan mendasar untuk melakukan perubahan.

Cerita ini membuatku memikirkan beberapa kejadianyang pernah kualami. Beberapa kali aku harus terjatuh ke dalam lubang yang sama, dua kali, tiga kali? Coba bayangkan. Bukankah aku akan dianggap orang yang tidak belajar-belajar juga, orang yang bebal, ndableg, konyol, songong atu bodoh, jika aku tetap saja jatuh ke dalam lubang yang sama, berulang kali. Bagaimana dengan kalian, sahabat-sahabatku? Coba pikirkan sesuatu yang selama ini selalu ingin kalian ubah. Dan tanya dairi kalian sendiri, sejujur-jujurnya : dalam adegan mana sekarang ini kalian berada dan apa yang semestinya kalian lakukan untuk memastikan bahwa kalian tiba di adegan terakhir?

Renungkanlah jalan yang sekarang kalian susuri. Apakah ada lubang dan kalian terus-menerus terperosok sampai akhirnya menyakiti diri kalian sendiri? Mengapa kalian masih juga terperosok, padahal tahu lubang itu ada? Mengapa sukar sekali bagi kalian untuk berjalan mengitari lubang itu, atau mungkin bahkan kalian mengambil jalan lain?
Nah sahabat-sahabatku, begini perjanjiannya. Jika ada lubang di jalan yang sekarang sedang susuri, pindahlah ke adegan lain, atau lebih baik lagi, pilihlah jalan yang lain. Jika tidak, kalian beresiko menyakiti diri kalian sendiri seandainya kalian terperosok. Atau jika kalian sudah pernah terperosok ambilah hikmah dari kejadian itu, dan mulailah berkomitmen suapay saya jangan sampai terperosok lagi. Ambil pelajarannya dan bagikan ke teman-teman atau saudara kalian, supaya mereka tidak mengalami hal sama seperti adegan yang pernah menyakiti anda. Bagaimanapun kalian harus memutuskan dan mewujudkan perubahan itu.


Keranjang Tembakau Temanggung Harga Paling Murah

Artikel Terkait
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Bijaklah memilih jalan hidup – kisah seorang pria dan jalannya.
Ditulis oleh Unknown
Tolong di share ke teman-teman ya,, artikel rating 5 dari 5.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://tani-temanggung.blogspot.com/2014/07/bijaklah-memilih-jalan-hidup-kisah.html. Terima kasih sudah singgah dan membaca artikel ini.

0 komentar:

Post a Comment

Template by Cara Membuat Email | Copyright of DINAMIKA HIDUP.